Kenali Jenis Disabilitas Untuk Lebih Memahami Kaum Difabel

Setiap orang memiliki potensi untuk menjadi penyandang disabilitas. Inilah sebabnya isu disabilitas akhir-akhir ini lebih gencar untuk menumbuhkan kepekaan terhadap kaum difabel. Potensi yang sama untuk menjadi penyandang disabilitas ini membuat siapapun merasa wajar untuk meminta kesetaraan hak disabilitas dengan orang non-disabilitas. Hambatan yang sering dialami oleh penyandang disabilitas adalah absennya sarana yang aksesibel bagi mereka. Contohnya adalah lift, penerjemah isyarat, bidang miring, dan yang lain. Sementara sarana yang aksesibel adalah hal setiap manusia, tidak peduli mereka penyandang disabilitas atau non-disabilitas.

Di Indonesia, sebelumnya menggunakan ketunaan untuk menyebut disabilitas, seperti tuna rungu, tuna wicara, tuna netra, dan yang lainnya. Namun sejak disahkannya UU No. 8 tahun 2016, salah satu poinnya adalah memaparkan ragam disabilitas. Di antaranya adalah :

1. Disabilitas fisik adalah fungsi gerak yang terganggu secara fisik seperti lumpuh kayu, kaku, amputasi, dan semacamnya.
2. Disabilitas mental adalah fungsi mental yang terganggu dalam wujud gangguan pikir, emosi, dan perilaku. Di antaranya adalah gangguan kepribadian, depresi, autis, dan sejenisnya.
3. Disabilitas intelektual adalah keterbelakangan mental, lamban belajar, dan gangguan-gangguan yang diakibatkan disfungsi otak dalam mengolah informasi.
4. Disabilitas sensorik adalah ragam disabilitas di mana terganggunya salah satu fungsi panca indra, seperti disabilitas netra, tuli atau wicara.

Di antara penyandang disabilitas, ada fakta-fakta unik yang terjadi. Sebagai contoh adalah penyandang disabilitas tuli lebih suka disebut tuli daripada rungu. Sebab, menurut mereka tuli lebih menunjukkan identitas dengan cara komunikasi yang berbeda, bukan sekedar tidak bisa mendengar atau bicara saja. Namun pada akhirnya, sebutan ini tergantung masing-masing penyandang disabilitas. Ada yang lebih suka disebut tuli, ada pula yang lebih suka disebut rungu. Pemilihan sebutan ini tergantung pada kenyamanan masing-masing penyandang disabilitas.

Pentingnya mengetahui lebih lanjut mengenai penyandang disabilitas akan membuka pola pikir dan wawasan yang selama ini masih tertutup, baik dari sisi non-disabilitas maupun penyandang disabilitas itu sendiri. Untuk mewujudkan Indonesia Ramah Disabilitas, sudah bukan saatnya meremehkan kemampuan penyandang disabilitas. Faktanya, kini banyak penyandang disabilitas yang telah mengukir prestasi untuk mengharumkan bangsa.